SUARA INDONESIA MALANG

Inovasi Pengolahan Polutan Zat Warna Mengantarkan Tim UIN Malang Juara 3

Mohammad Sodiq - 30 December 2020 | 11:12
Pendidikan Inovasi Pengolahan Polutan Zat Warna Mengantarkan Tim UIN Malang Juara 3
Tim Mahasiswa Kimia UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang meraih juara 3 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Pejuang Inovasi Nasional 2020.

KOTA MALANG - Tim Mahasiswa Kimia UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang meraih juara 3 dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Pejuang Inovasi Nasional 2020.

Lomba yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiwa Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Kalimantan itu mengangkat tema “Peran Generasi Millenial Untuk Mengembangkan IPTEK Pasca Pandemi Menuju Indonesia Emas 2045”. 

Tim UIN Malang “Highscore” yang terdiri dari Dewi Rohmatul Ilmi, Amalia Firdaus Izky Rahmawati, dan Indra Nur Cahyo mampu bersaing dengan peserta lain dari berbagai kampus di Indonesia.

“Highscore” tidak sengaja diangkat dari salah satu software untuk pengolahan data XRD sebagai icon dari nama tim mereka.

Dalam membantu mengembangkan ilmu dan teknologi, Tim Highscore UIN Malang membuat material fotokatalis TiO2-N/zeolit yang merupakan material hasil sintesis dari bahan semikonduktor titanium dioksida yang terdoping oleh nitrogen dan terimpregnasikan ke dalam zeolit alam.

"Produk sintesis tersebut muncul karena terdapat banyak limbah cair yang masuk dalam lingkungan masyarakat," ujar Dewi Rohmatul Ilmi beberapa waktu lalu.

Limbah cair tersebut umumnya berupa limbah zat warna yang dihasilkan oleh industri tekstil yang disebabkan adanya proses pewarnaan dengan menggunakan pewarna sintesis, salah satunya adalah metil jingga.

Hal demikian, lanjut Dewi, yang menjadi latar belakang untuk melakukan sebuah inovasi dengan memanfaatkan mineral yang tersedia di alam dalam menurunkan kadar metil jingga.

"Metil jingga merupakan zat senyawa organik yang termasuk dalam pewarna azo merupakan senyawa yang dapat mengalami pemutusan enzimatik pada sistem biologi mamalia, salah satunya adalah manusia," ujarnya.

Lanjut Dewi, ikatan azo yang terdapat pada zat warna metil jingga tersebut dapat terpecah menjadi amina aromatis dimana paparan terhadap amina aromatis dapat meyebabkan methemobloginemia atau kelainan pada darah.

"Jadi, kelainan tersebut dapat disebabkan karena amina aromatis mengoksidasi Fe (II) pada hemoglobin menjadi Fe (III), sehingga akan menghalangi pengikatan oksigen," paparnya.

Sementara, lanjut Dewi, TiO2-N/zeolit dapat diaplikasikan sebagai material pendegradasi dengan memanfaatkan sinar ultraviolet maupun sinar matahari sebagai sumber foton dalam mengasilkan radikal OH.

"Radikal OH tersebut merupakan agen yang berperan penting pada saat degradasi zat warna, yaitu sebagai agen pengoksidasi," jelasnya.

Selain itu, material TiO2-N/zeolit termasuk dalam material reusable karena setelah digunakan untuk mendegradasi limbah zat warna masih dapat digunakan kembali.

"TiO2-N/zeolit disintesis menggunakan metode sonikasi yaitu titanium dioksida dan urea disuspensikan dalam pelarut akuademineralisasi, urai Dewi.

Selanjutnya, dilakukan impregnasi atau pengembanan ke dalam zeolit alam dengan menggunakan pelarut berupa etanol 96%.

Setelah itu, dilakukan uji aktivitas TiO2-N/zeolit terhadap zat warna metil jingga dengan bantuan sinar ultraviolet dalam reaktor.

"Hasil yang didapatkan saat uji aktivitas larutan metil jingga memberikan perubahan warna dari yang semula berwarna pekat menjadi lebih pudar dengan persen degradasi (penurunan) sebesar 29,47%. Sehingga membuktikan bahwa TiO2-N/zeolit mampu menurunkan konsentrasi zat warna metil jingga," ungkapnya.

Dengan demikian, Dewi dan Tim Highscore UIN Malang berharap inovasi itu mampu diimplementasikan sebagai upaya mengurangi limbah cair.

"Hal ini dalam menghadapi permasalahan lingkungan di negara Indonesia dalam menghadapi Indonesia Emas 2045," katanya.

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Mohammad Sodiq
Editor :

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya