SUARA INDONESIA
Banner

Menteri Luhut Dorong Modernisasi Pertanian: Jangan Impor, Malang Raya Coba Dimainkan Itu!

MALANG - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) Luhut Binsar Panjaitan optimis melihat perkembangan pertanian di Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Batu dan Kota Malang). Ia berkeinginan Malang Raya bisa memainkan modernisasi pertanian.

Hal itu disampaikannya saat kunjungan kerja ke Kota Batu, Senin (26/04/2021) lalu. Untuk pengembangan pertanian, Ia menyarankan agar pertanian melibatkan lembaga pendidikan yang ada di Malang Raya.

"Pertaniannya saya lihat maju. Saran saya Universitas Brawijaya (UB) dan semua universitas yang ada disini (Malang Raya) coba konek ke pertanian, agar bisa menghasilkan bibit yang cocok dengan daerah sini, tidak perlu impor, cost akhirnya ditekan lagi, lebih efisien," pungkadnya.

Jika temuan bibit itu bisa terlaksana buatan dalam negeri, ia menjanjikan royalti kepada penemunya. Ia juga menyarankan pemda setempat memberikan fasilitas kepada kampus untuk mencari bibit terbaik untuk daerah Malang Raya.

"Jika ada temuan bibit bagus, kepada penemunya nanti akan dapat royalti atas penemuan mereka, sehingga mereka semangat anak-anak muda itu. Fasilitasi cari bibit Jagung bagus, Padi unggul, bibit apa saja sehingga buat daerah ini tambah bagus. Memang harus ada keberanian, saya titip betul itu, Malang Raya coba dimainkan itu," ujarnya.

Menkomarves Luhut yakin dari kurang lebih satu setengah juta penduduk Malang Raya banyak anak muda yang pintar. Hal itu dapat mendongkrak kemajuan perekonomian di Malang Raya.

"Universitas bisa melakukan pengembangan teknologi," pungkasnya.

Pria berdarah Batak itu juga menyinggung soal penyerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di industri nasional.

Ia yakin industri nasional mampu mengoptimalkan produk dalam negeri dalam pengadaan barang modal.

Dari sejumlah pengadaan untuk barang modal dan barang itu, masih banyak yang berasal dari luar negeri atau impor.

"TKDN kita dorong terus agar jangan impor mesin. Tidak masalah mahal, boleh sampai 15 atau 25 persen perbedaanya asal buatan dalam negeri. Kita dorong nanti masuk e-katalog, Alat Mesin Pertanian (Alsintan) kita sudah log. Besok kami akan lihat di Surabaya mesin sudah kita buat, karena selama ini kita impor dan hanya bisa membuat aksesorisnya saja, sekarang mesinnya bisa kita buat. Ayo Malang Raya bermainlah," bebernya.

Apa Reaksi Anda?