SUARA INDONESIA
Banner

Kisah Pria Asal Kota Batu, Berhasil Bisnis Tanaman Hias di Masa Pandemi

KOTA BATU - Fenomena bunga hias saat ini tidak asing lagi untuk didengar. Apalagi masa pandemi Covid-19 menyebabkan masyarakat banyak menghabiskan banyak waktu di rumah.

Untuk menghabiskan waktu luang, biasanya akan timbul keinginan untuk berkegiatan yang memenuhi kebutuhan estetika. Salah satunya yaitu dengan mengoleksi bunga hias.

Kota Batu Jawa Timur sebagai salah satu tempat yang menyediakan banyak bunga, menyebabkan banyak wisatawan memilih berburu bunga hias disini. 

Hal ini menjadi kesempatan emas bagi masyarakat Kota Batu, untuk membudidayakan bunga hias yang tengah diminati pasar.

Agus Suwiknyo salah seorang warga Dusun Jantur, Desa Gunungsari, Kota Batu, ikut dalam memanfaatkan kesempatan tersebut. Pria 40 tahun ini telah menggeluti bisnis bunga hias sekitar 4 bulan belakangan ini. 

Bisnis yang baru saja dicemplunginya tersebut, membawanya berhenti dari bisnis bunga sebelumnya. 

Kepada suaraindonesia.co.id, Agus Suwiknyo menceritakan, pada awalnya ia menggeluti bisnis bunga potong sejak tahun 2008. Dari bisnis tersebut, ia mendapatkan omset sebesar Rp 2.000.0000 hingga Rp 2.500.000 saja per bulan. 

Bisnis bunga potong yang sebelumnya dilakukan dinilainya kurang menghasilkan, hingga akhirnya ia mencoba bisnis bunga hias yang tengah trending di masa pandemi Covid-19. 

Biaya awal yang harus Agus Suwiknyo keluarkan untuk membuka usaha bunga hias sebesar Rp 150.000.000. Pengeluaran yang begitu besar untuk pembelian bunga hias baru tergantikan dari hasil penjulaan selama 4 bulan. 

“Saya baru bisa merasakan keuntungan dari berjualan bunga ini setelah 4 bulan. Sekitar Rp 400.000.000 masuk dalam kantong saya untuk hasil penjualan beberapa bunga saja. Saya tidak dapat menghitung penghasilan perbulan, karena lakunya bunga tidak menentu," kata Agus Suwiknyo, Jumat (19/02/2021).

Ia menambahkan, untuk penghasilan yang didapatkan selama 4 bulan itu dipergunakannya untuk membuat Green House yang lebih besar. Dana yang dikeluarkan untuk pembangunan Green House sebesar Rp 80.000.000. Sedangkan untuk sisanya ia putar kembali untuk menyediakan stok bunga. 

Dalam satu Green House, Agus Suwiknyo memiliki ratusan jenis bunga koleksi. Mulai dari bunga Janda Bolong, Pilopiskin, Misteramin dan lain-lain. 

Dalam pemasaran, ia mematok harga mulai Rp 150.000 hingga Rp 500.000.000 untuk bunga yang dimilikinya.

Misteramin adalah salah satu jenis bunga anadalan termahal yang dimilikinya. Untuk harga sendiri ia mematok Rp 100.000.000 per daun. Sehingga untuk penjualan bunga satu pot saja untuk jenis ini dapat mencapai Rp 500.000.000 tergantung jumlah daun yang dimiliki. 

Alasan pertama yang membuat mahalnya harga tanaman hias itu adalah faktor langka. Sehingga, untuk pembeli sendiri biasanya adalah para kolektor bunga yang memiliki antuasiasme tinggi terhadap tanaman.

“Untuk strategi penjualan, saya biasanya memposting di story WhatsAap, lalu teman-teman sesama penjual bunga akan membatu menyebarkan. Saya juga memposting di Facebook agar lebih dikenal di masyarakat luas. Selain itu saya juga sedang mengembangkan penjualan lewat aplikasi belanja online Lazada," kata Agus Suwiknyo.

Untuk perawatan sendiri, Agus Suwiknyo menceritakan bahwa bunga yang dimilikinya tidak memerlukan perlakuan khusus. Hanya disiram 10 hari sekali, dan di pupuk untuk bunga tertentu.

Apa Reaksi Anda?